asmaul husna

asmaul husna
subhanallah

Minggu, 20 April 2014

Gebyar Pemilu 2014


 
Indonesia, negara kebanggaan kita, mungkin sampai sekarang belum berhenti menangis. Benci rasanya seusai mendengar kilas cerita guru tercinta akan poitik Indonesia. Entahlah itu hanya rekayasa atau fakta.
Sayangnya negri tempat tinggal kita ini adalah seorang yang tegar. Tangisnya begitu lembut tak terdengar selirih apapun suaranya. Bila ia mampu bicara mungkin saja ia berani mengutarakan keuhannya “kapan Tuhan mengirimkan seorang ‘Amir ‘ yang nadhif untukku, yang mampu membuatku tenang, membuat penghuniku damai, dan penuh dengan pewalian dan penghafidzan dari-Nya?
Hmm usai sudah rakyat Indonesia mengikuti salah satu hajatan rutin lima tahunan yaitu pemilihan umum legislatif (pileg), dan dari hasil hitung cepat berbagai lembaga menampilkan PDIP sebagai parpol yang boleh dikata unggul mendapat suara terbanyak di pemilu 2014 ini.
Keunggulannya sudah dapat diprediksi sebelum pemilu dilakukan. Di dukung pula telah diusungnya Jokowi masuk dalam partai ini, yang mana ia adalah figur yang tak sedikit rakyat menyukainya. Mungkinkah faktor kejujurannya atau faktor lain yang membuat rakyat tertarik terhadapnya.
Yaaa.. apapun partainya siapapun pemimpinnya, rakyat sangat menaruh harapan besar pada caleg yang telah terpilih kali ini untuk diperjuangkan sehingga bisa memberi kemakmuran bagi seluruh masyarakat dari Sabang sampai Merauke. Tak sekedar monjolkan ego yang membuat masyarakat bosan dengan iming-iming dan janji-janji yang diobralkannya saat kampanye. Beban pemimpin baru adalah sanggupkah ia menghilangkan anggapan dan kecaman masyarakat bahwa “politik Indonesia itu kotor”
Bukti adalah doa masyarakat yang  semoga bisa terwujud, bukan ikrar-ikrar manis yang levelnya tak terhingga sehinnga meracuni rakyat. Adanya pemimpin yang mampu duduk di kursi kepemimpinan Indonesia adalah atas dasar dukungan rakyatnya. Balaslah dukungan ikhlas itu dengan hati yang suci.
Rakyat tak butuh uang melimpah. Rakyat tak butuh negara maju yang penuh dusta dan kenistaan. Namun rakyat menyimpan keinginan yang menggebu-gebu yakni mereka butuh akan kejujuran pemimpinnya. Mereka rela negaranya berstatus ‘berkembang dan miskin’ asalkan pemimpinnya sanggup adil, jujur dan memberi kebijakan serta bantuan yang merata tanpa pandang bulu.
Wahai amir yang terhormat
Janji jangan dilupa
Visi misi tetap terlaksana
Jangan tunjukkan materi dan simpatikmu
Tunjukkanlah keapaadaan dirimu
Buatlah masyarakat mencintai kejujuranmu



Hari Pendidikan Nasional

Keprihatinan sesak menyarati benak ini. Memandang pasukan lalat yang semakin menampakkan keburukannya. Menghinggapi kotoran, lalu  dengan asyiknya mampir di tepi kerut bibir manusia.

Ya, tak heran aku akan itu. Karena hayawan diciptakan Tuhan tak sesempurna mausia. Manusia yang dengan segala kesempurnaannya termasuk akal dan tata krama. Lalu bagaimana bila kini manusia malah bahkan lebih dari kiasan lalat itu?
Keprihatinan sesak menyarati benak ini. Memandang anak Nusantara yang semakin berganti zaman makin menampakkan kerendahan karakternya. Tak asing ku mendengar, tlah sering ku mendengar para guru yang pernah bahkan sekarang masih mengajarku, berucap : “anak-anak sekarang dengan anak-anak zaman dahulu itu beda, beda bagaimana? Beda mengenai rasa ta’dhimnya terhadap para guru dan dengan ilmu yang dituntutnya”. ,,Panjang bila membahas sepenggal kalimat ini.
Serasa kini para ‘tolabul ilmi’ di sekolah hanya mencari sebuah kepopularitasan,mencari teman, mencari kebahagiaan, atau entah apa yang menurut para pelajar terutama pelajar remaja itu bisa mendapat apa yang diinginkannya.
Keprihatinan sesak menyarati benak ini. Adakah mayoritas anak bangsa ingin mewujudkan negri ini menjadi “baldatun tayyibatun warobbun ghofur”? ataukah mungkin hanya minoritas?
Seluruhnya ada ditangan para penerus bangsa. Tugas kita sebagai yang muda adalah fokus dan serius serta istiqomah belajar dengan ikhlas meraih asa setinggi angkasa. Bersihkan niat kita dalam bersekolah. Jangan bertujuan yang salah, atau sekedar mencar nilai dan kepandaian. Sebab kepandaian bukanlah hal utama. Karna ia dapat terkotori apabila tidak disertai dengan kebenaran dan kejujuran. Tak sedikit orang pandai yang tak bisa menjaga kepandaiannya, malah memanfaatkan kepandaian itu untuk berdusta, menipu, atau untuk menyombongkan diri. Lalu dengan syarat apa kita boleh meraih kepandaian yang baik? Inilah yang harus kita capai, yakni karakter baik/akhlakul karimah adalah hal pokok yang kita cari pertama kali sewaktu menuntut ilmu. Barulah bila kita mampu berkarakter baik, insyaallah pandai akan mengikuti langkah kita.
Betapa harmonisnya negri kita bila seluruh masyaraktnya belajar membentuk akhlakul mahmudah. Bangkitlah wahai perintis, pula penerus bangsa. Wujudkan pendidikan sebaik-baiknya. Mari lanjutkan perjuangan pahlawan pendidikan nasional kita, “Ki Hajar Dewantara “ yang telah sepenuh jiwa membela hak anak bangsa untuk mampu terjun mengenyam pendidikan.
HIDUP INDONESIA !